Dawrah Umum

Dawrah Umum

Ahad, Disember 30, 2012

Majlis bersama Al Habib Kadzim Jaafar As-Saggof di di Masjid Al Falah USJ 9.


Majlis bersama Al Habib Kadzim Jaafar As-Saggof di di Masjid Al Falah USJ 9.

295135_463980310304478_366342722_n

Sabtu, Disember 22, 2012

Ahad, Disember 16, 2012

LANTUNAN MAHABBAH RASULILLAH PERDANA 2012


LANTUNAN MAHABBAH RASULILLAH PERDANA 2012



Tarikh: 21 & 22 DISEMBER 2012
Hari: JUMAAT DAN SABTU
Masa: 8 PG -11.30 MLM
Tempat: STADIUM SULTAN ABD HALIM ALOR SETAR.

Jemputan Utama:

-SS DATO MUFTI KEDAH
-SYEIKH ROHIMUDDIN AL BATANI
-HABIB ALI bin Abu Bakar bin Syech Abu Bakar, TIMB MUDIR DARUL MUSTAFA YAMAN
-DATO HARUN DIN
-SYEIKH ZAINUL ASRI

Aturcara Majlis:

{21 DISEMBER 2012}

9.00 PG- Majlis Perasmian
Kuliah Khas: CIRI CIRI DAN SIFAT INSAN YG BERSAMA RASULULLAH SAW
2.00 PTG - SLOT KHAS MUSLIMAH bersama isteri habib Ali bin Abu bakar (yaman) - TAZKIRAH & QASIDAH
9.00 MLM - PENTAS ORG MUDA- HIMPUNAN PARA ULAMA MUDA NUSANTARA
TAJUK: ULAMA PEWARIS NABI

{22 DISEMBER 2012}

9.00 PG - KERINDUAN BERTEMU RASULULLAH SAW
2.00 PTG - PERSEMBAHAN QASIDAH SENTUHAN QALBU
- MENYELUSURI SEBUAH PENGKISAHAN AGONG KEHIDUPAN RASULULLAH SAW..
-ALUNAN QASIDAH SELAWAT
9.00 MLM - Acara kemuncak, TAHLIL,
LANTUNAN MAHABBAH BERSAMA ULAMA PEWARIS NABI

Sepanjang program - JUALAN PRODUK MUSLIM-HALAL LAGI BAIK
BG MERASAI KESYAHDUAN DAN KERINDUAN KEPADA RASULULLAH, ANADA DIGALKKAN BERPAKAIAN PUTIH PD MLM KEMUNCAK...
SEBARKAN.

Epistimologi Imam Al-Ghazali


Epistimologi Imam Al-Ghazali


Epistimologi Imam Al-Ghazali

Al-Ghazali memandang bahwa manusia memperoleh pengetahuan melalui dua cara. Pertama, melalui belajar dibawah bimbingan seorang guru, serta dengan menggunakan indera dan akal. Melalui cara ini, manusia mengenal inderawi, menghasilkan ilmu dan pengetahuan, serta mempelajari huruf dan keahlian. Kedua, melalui belajar yang bersifat Rabbani atau belajar Ladunni, dimana terungkap pengetahuan hati secara langsung melalui ilham dan wahyu.

Pengetahuan yang bersifat Rabbaniyah atau pengetahuan Ladunniyah adalah tingkatan tertinggi pengetahuan. Pengetahuan ini membutuhkan ibadah, kezuhudan Mujahadah (mendekatkan diri kepada Allah), dan olah batin (Riyadhah an-Nafs) atas akhlak yang mulia. Sepertinya al-Ghazali mengaitkan antara keluhuran dan kesempurnaan jiwa manusia dengan keluhurannya dalam memperoleh pengetahuan. Oleh karena itu, semakini meningkat dan luhur jiwa manusia melalui kontrakanya dengan Allah SWT, maka semakini berkembang pengetahuannya.
Pengetahuan yang diperoleh manusia melalui alat indera dan akal adalah pengetahuan yang terbatas, dan pengetahuan itu sendiri tidak mengaitkan manusia dan alam ghaib. Sedangkan pengetahuan Rabbaniyah adalah satu-satunya pengetahuan yang mengaitkan manusia dengan Allah SWT. pengetahuan inilah yang dapat membuat manusia memperoleh ketenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan pengetahuan sejati. Dan manusia tidak akan memperoleh pengetahuan Rabbaniyah, kecuali melalui pembersihan jiwa dari sifat-sifat tercela, dan pendekatan jiwa dengan sifat-sifat terpuji yang membuatnya siap menerima pengetahuan Rabbaniyah, yaitu pengetahuan sejati.
Aksiologi Al-Ghazali

Menurut Imam Al-Ghazali orang sufi benar-benar berada di atas jalan yang benar , berakhlak yang baik dan berpengetahuan. Manusia sejauh mungkin meniru perangai dan sifat-sifat Tuhan seperti pengasih, penyayang, pengampun (pemaaf), dan sifat-sifat yang disukai Tuhan, sabar, jujur, takwa, ikhlas, zuhud, beragama dan sebagainya. Dalam Ihya ‘Ulumuddin itu Al-Ghazali mengupas rahasia-rahasia ibadat dan tasawuf dengan mendalam sekali. Misalnya dalam mengupas soal at-thaharah ia tidak hanya mengupas kebersihan badan lahir saja, tetapi juga kebersihan rohani. Dalam penjelasannya yang panjang lebar tentang salat, puasa, dan haji. Kita dapat menyimpulkan bahwa bagi Al-Ghazali semua amal ibadah yang wajib itu merupakan pangkal dari segala jalan pembersihan rohani.

Al-Ghazali melihat sumber kebaikan manusia itu terletak pada kebersihan rohaninya dan asa akrabnya terhadap Tuhan. Sesuai dengan prinsip Islam, Al-Ghazali menganggap Tuhan sebagai pencipta yang aktif berkuasa, yang sangat memelihara dan menyebarkan rahmat bagi sekalian alam.
Alghazali juga sesuai dengan prinsip Islam, mengakui bahwa kebaikan tersebar di mana-mana, juga materi. Hanya pemakainya yang disederhanakan, yaitu kurangi nafsu dan jangan berlebihan.
Metode Pendidikan Islam

Dalam hal yang berhubungan dengan metode pendidikan Islam, Al-Ghazali menekankan pentingnya bimbingan dan pembisaaan. Dalam menerapkan metode tersebut Al-Ghazali menyarankan agar tujuan utama dari penggunaan metode tersebut di selaraskan dengan tingkat usia, tingkat kecerdasan, bakat dan pembawaan anak dan tujuannya tidak lepas dari hubungannya dengan nilai manfaat. Oleh karena itu dalam metode pendidikannya ini Al-Ghazali cenderung mendasarkan pemikirannya pada prinsip ajaran sufi (penyucian jiwa) dan pragmatis (nilai guna).

Dalam uraiannya yang lain, Al-Ghazali juga meletakkan prinsip metode pendidikan pada aspek mental atau sikap, sebagaimana kata-kata beliau “wajib atas para murid untuk membersihkan jiwanya dari kerendahan akhlak dan dari sifat-sifatnya yang tercela, karena bersihnya jiwa dan baiknya akhlak menjadi asas bagi kemajuan ilmu yang dituntutnya.”

Dan hal tersebut dapat digunakan dengan menggunakan berbagai macam metode antara lain: metode keteladanan, metode bimbingan dan penyuluhan, metode cerita, metode motivasi, dan sebagainya.
Selain itu menurut Imam Al-Ghazali dalam metode pendidikan ini ada dua macam kecenderungan yaitu:
a. Kecenderungan religius sofistis, yang meletakkan ilmu-ilmu agama di atas pemikirannya. Dan melihatnya sebagai alat untuk menyucikan jiwa dan membersihkannya dari kotoran duniawi. Dengan demikian ia menekankan kepentingan akhirat yang menurutnya harus di kaitkan dengan pendidikan agama.
b. Kecenderungan aktualitas manfaat yang tampak dari tulisan-tuliasannya meskipun ia seorang sufi dan tidak suka kepada duniawi, namun dia mengulangi penilaiannya terhadap ilmu-ilmu menurut kegunaanya bagi manusia baik di dunia ataupun di akhiratnya.

Buku Karya Imam al Ghazali, Kitab Karangan al-Ghazali

Hujjatul islam Imam Al-Ghazali adalah seorang penulis produktif yang handal dalam khazanah ilmu pengetahuan umum dan Islam.
Sejumlah buku karya imam al-ghazali kini tersebar ke seluruh penjuru dunia dan diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Berikut ini karya-karya al-ghazali menurut klasifikasi bidang keilmuan.
Karya imam al-ghozali dalam bidang Fiqih dan ushul fiqih yaitu:

§  al-Ta’liqah
§  Khulashat al-mukhtashr wa naqawat al-mu’tashr.
§  Tahddzib al-ushul.
§  Ghayat al-ghawr fi diryat al-dawar.
§  al-Mustashfa min ‘ilm al-ushul.
§  Asas al-qiyas.
§  al-Mankhul min ta’liqat al-ushul.
§  al-Basithh.
§  al-Wasith fi al-mathab.
§  al-Wajiz fi fiqh al-imam al-shafi’i.
§  Fatawa al-Ghazali.

Buku Karya imam al-ghazali dalam bidang ilmu Tasawuf dan Akhlaq:
§  Mizan al-’amal.
§  Bidayat al-hidayah.
§  al-’Ara’bin fi ishul al-din.
§  Kimiyaus sa’adah.
§  Ayat al-walad al-muhib.
§  Nashihat al-muluk.
§  Zad akhart.
§  Ihya’ ‘ulumuddin.
§  al-Munqidhz minad dzhzalal.
§  Sirr al-’alamin wa kashf ma’ fi al-darain.
§  Minhajul ‘abidin.
§  al-Imala’ ‘ala Ishkalat al-Ihya.

Kitab Karya al-ghazali dalam bidang ilmu Kalam dan ushuluddin:
§  al-Mustadzhiri au Fadza’ih al-bathiniyyah wa fadza’il al-mustadhiriyyah.
§  Ḥujat al-haq.
§  Qawashim al-bathiniyah awa jawab al-masa’il al-’arba’ al-lati sa’alaha al-bathiniyah bi-hamadhan.
§  al-Maqashid al-’asna fi syarhi ‘asma’ Allahu al-husna.
§  Jawahir al-qur’aan wa duraruhu.
§  Fayashl al-tafriqah bayn al-Islam wa zanadiqah.
§  Misykatul anwar.
§  al-Iqtishad fil I’tiqad.
§  al-Risalah al-qudsiyah.
§  Mufashil al-khilaf.
§  Iljam al-’awamm ‘an ‘ilm al-kalam.
§  Al-hikmah fi makhluqatillah.
§  Qanun al-ta’wil.

Karya imam al-ghazali dalam bidang ilmu manthiq/logika:
§  al-Muntakhal fi al-jidal.
§  Mi’yar al-’ilm fi fan al-manthiq.
§  Mihak al-nadzar fi al-manthiq.
§  al-Madznun bihi ‘ala ghyar ahlihi.
§  Maqashid al-falasifah.
§  Tahafut al-falasifah.
§  al-Qisthas al-mustaqim.
§  Ma’arij al-quds fi madarij ma’rifat al-Nafs.

Kitab, buku Karya imam al-ghazali dalam berbagai bidang ilmu lainya:
§  Maktubat imam al-Ghazali.
§  Majmu’atur Rasail al-Imam al-Ghazali.
§  Imam Al Ghozali termasuk penulis yang tidak terbandingkan lagi, kalau karya imam Al Ghazali diperkirakan mencapai 300 kitab, diantaranya adalah :
§  1. Maqhasid al falasifah (tujuan para filusuf), sebagai karangan yang pertama dan berisi masalah-masalah filsafah.
2. Tahaful al falasifah (kekacauan pikiran para filusifi) buku ini dikarang sewaktu berada di Baghdad di kala jiwanya di landa keragu-raguan. Dalam buku ini Al Ghazali mengancam filsafat dan para filusuf dengan keras.
3. Mi’yar al-‘ilmi/miyar almi (kriteria ilmu-ilmu).
4. Ihya’ ulumuddin (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama). Kitab ini merupakan karyanya yang terbesar selama beberapa tahun ,dalam keadaan berpindah-pindah antara Damakus, Yerusalem, Hijaz, Dan Thus yang berisi panduan fiqih, tasawuf dan filsafat.
5. Al munqiz min al dhalal (penyelamat dari kesesatan) kitab ini merupakan sejarah perkembangan alam pikiran Al Ghazali sendiri dan merefleksikan sikapnya terhadap beberapa macam ilmu serta jalan mencapai tuhan.
6. Al-ma’arif al-aqliyah (pengetahuan yang nasional)
7. Miskyat al anwar (lampu yang bersinar), kitab ini berisi pembahasan tentang akhlak dan tasawuf.
8. Minhaj al abidin (jalan mengabdikan diri terhadap tuhan).
9. Al iqtishad fi al i’tiqod (moderisasi dalam aqidah).
10. Ayyuha al walad.
11. Al musytasyfa
12. Ilham al –awwam an ‘ilmal kalam.
13. Mizan al amal.
14. Akhlak al abros wa annajah min al asyhar (akhlak orang-orang baik dan kesalamatan dari kejahatan).
15. Assrar ilmu addin (rahasia ilmu agama).
16. Al washit (yang pertengahan) .
17. Al wajiz (yang ringkas).
18. Az-zariyah ilaa’ makarim asy syahi’ah (jalan menuju syariat yang mulia)
19. Al hibr al masbuq fi nashihoh al mutuk (barang logam mulia uraian tentang nasehat kepada para raja).
20. Al mankhul minta’liqoh al ushul (pilihan yang tersaing dari noda-noda ushul fiqih).
21. Syifa al qolil fibayan alsyaban wa al mukhil wa masalik at ta’wil (obat orang dengki penjelasan tentang hal-hal samar serta cara-cara penglihatan).
22. Tarbiyatul aulad fi islam (pendidikan anak di dalam islam)
23. Tahzib al ushul (elaborasi terhadap ilmu ushul fiqiha).
24. Al ikhtishos fi al ‘itishod (kesederhanaan dalam beri’tiqod).
25. Yaaqut at ta’wil (permata ta’wil dalam menafsirkan al qur’an).
http://imamalghazali.com

Selasa, Disember 11, 2012

Agenda Kristian Untuk Malaysia Terbongkar Di Jerusalem…




Agenda Kristian Untuk Malaysia Terbongkar Di Jerusalem… December 11, 2012

Posted by membelaislam in anti-IslamUncategorized
Tags: 
trackback
Kembara Universiti Kehidupan Ke 10 ke al-Aqsa bermula dari 26 November hingga 3 Disember 2012.
Seperti biasa, hari pertama kami sampai ke Jerusalem, kami akan masuk ke dalam hotel, berehat sebentar dan kami akan terus ke masjid al-Aqsa untuk mendirikan solat Maghrib dan Isyak di al-Aqsa.
Pulang waktu Isyak, kami akan makan malam di kafe hotel.
Mahmood, pemandu pelancong yang biasa dengan saya mencuit bahu saya dan mengajak saya ke satu sudut.
“Muhammad, mari sini” katanya.
“Kenapa?” tanya saya agak kehairanan kenana wajahnya agak serius, nada suaranya, agak perlahan seolah-olah ada rahsia yang ingin dibisikan pada saya.
“Tinggal bersama kamu di hotel ini satu rombongan dari Malaysia” terang Mahmood.
“Oh ye ke!” saya agak gembira mendengar berita itu.
“Tapi mereka rombongan Kristian” kata Mahmood lagi.
“Ye ke, ah, di sinikan banyak tempat penting buat Kristian, tentu mereka nak ziarah” kata saya.
“Sepanjang perjalanan dari border Jordan-Israel, mereka memang mengutuk Islam dan sangat tidak puas hati dengan orang Islam di Malaysia, mereka memang anti Islam” Mahmood Menambah.
“Mereka tak tahu aku Islam, mereka ingat aku Kristian” Mahmood semakin rancak berbual dengan saya di satu sudut di bahagian tangga.
“Memang bukan Islam di mana-mana pun tak suka Islam” kata saya tenang.
“Tak, mereka ini  lain, mereka memang anti Islam di Malaysia” terang Mahmood bersungguh-sungguh.
Perbualan malam pertama itu habis dengan rasa tidak puas hati Mahmood terhadap rombongan Kristian dari Malaysia ini.
Selama berhari-hari kami di hotel yang sama, berselisih di dewan makan, memang rombongan ini tidak menegur kami sedangkan mereka dari Malaysia, duduk di Malaysia.
Tidak ada sepatah pun bahasa Melayu yang keluar dari mulut mereka sedangkan kami saling mengetahui, sama-sama dari Malaysia.
Ada juga kami ingin menegur siapa, tetapi tidak di jawab atau jawapan yang sangat dingin.
Saya tidak tahu, apakah tujuan mereka datang, sama ada untuk lawatan atau ada apa-apa persidangan Kristian yang mereka hadiri.
Saya tidak mengambil perhatian apa yang berlalu walaupun pada tiap-tiap malam, Mahmood akan menceritakan pada saya mengenai ketidak puasan hati mereka pada Islam di Malaysia.
Mahmood memarahi saya…
“Apa dah jadi pada kamu orang Islam di Malaysia hingga hilang sensitviti dalam mempertahankan hak kamu?”
Apa yang mampu saya jawab hanyalah…
“berpecah, dan ramai yang berpecah…”
Jawapan yang sangat tidak bersemangat dan seolah-oleh maksudnya, “apa nak jadi, jadilah…”
Ya, kurang rasa sensitiviti….
Allah ingin menunjukkan pada saya sesuatu terhadap jawapan di atas……
1 Disember 2012 jam 8.30 pagi, hari terakhir kami di Palestin…
Biasanya hari terakhir saya akan membawa jemaah semua ke Mount Of Olive (Jabal Zaitun), Pemandangan al-Aqsa dari atas bukit ini terlalu cantik terutama pada waktu pagi, ketika memancarnya cahaya matahari dari arah timur, ia menyerlahkan lagi warna emas Dome Of Rock.
Bas yang kami naiki pada pagi ini adalah bas yang dinaiki oleh rombongan Kristian dari Malaysia sehari sebelumnya.
Seorang jemaah menghampiri saya dengan membawa beberapa helaian kertas yang terdapat di dalam bas ini.
UstazAmin-DecreeJerusalemSaya menatap kertas yang diberikan pada saya. Mata saya tertumpu pada tulisannya dan ia menjadikan jantung saya berdegup kencang, mungkin seperti degupan jantung Mahmood sejak seminggu lalu.
Tulisan itu berbunyi..
Decree For Malaysia
“We decree and declare that Malaysia will be a “Rainbow Nation” in seding missonaries to bring the gospel to the surrounding nations as well as be the gateway to open its doors to outside missionaries to preach the gospel here..”
Ini agenda Kristian di Malaysia, inilah yang cuba  Mahmood ceritakan pada saya sejak semingga lalu.
Ketika di Malaysia, saya selalu mendengar tentang agenda pendakyah Kristian, dan setiap kali berita itu keluar saya cuba untuk tidak mempercayainya kerana masih bersangka baik pada mereka.
Lebih-lebih lagi, ada sahaja golongan ahli politik yang memberikan komen popular yang menafikan fakta ini.
Kalau ada orang yang cuba bawa fakta ini, orang itu akan dicap sebagai penipu dan pembohong.
Hal ini menjadikan ramai orang Islam kita merasa berada di zon selesa kerana mempercayai  ahli politik yang punyai kepentingan.
Bagi pendakyah pula, mereka memang berada di zon paling bagus kerana usaha dan perancangan mereka di nafikan sendiri oleh orang Islam. Mereka boleh buat apa sahaja kerana orang Islam sangat tidak sensitif, malahan ada yang membela perbuatan mereka.
Ada beberapa perkara yang saya ingin tekankan:-
1. Bagi pendakyah Kristian, jangan pandang rendah kemampuan pendakwah Islam yang tidak berkepentingan di Malaysia. Kami para pendakwah dan orang-orang yang ikhlas akan tetap mempertahankan kedaulatan Islam di Malaysia sama ada menang atau kami mati di dalam usaha ini.
2. Malaysia bukan milik orang politik yang ada kepentingan yang  menyokong tindakan kamu kerana harapkan sokongan, Malaysia di dokong oleh ramai pejuang agama Islam, bangsa muslim  dan tanah air umat Islam. Kalau orang politik sibuk dengan perpecahan mereka, maka perjuangan itu tetap dibahu oleh umat Islam dari bidang lain.
3. Bagi umat Islam di Malaysia, ini bukan gimik popular, saya bukan ahli politik yang inginkan popular, Biarkan ahli politik bergaduh sesama mereka, yang boleh kita damaikan, kita damaikan atau sedarkan dengan apa cara sekalipun. Perpecahan ini satu yang sangat merugikan. Orang Kristian berbincang hingga ke luar negara merancang untuk mengkristiankan Malaysia, kita hanya menafikan dan hilang sensitiviti.
4. Bagi sahabat-sahabat dari Jabatan Agama Islam, anjurkanlah banyak program-program untuk menjaga dan mengawal umat Islam di Malaysia, bahagian zakat jangan berbangga dengan jumlah kutipan, tetapi usahakan untuk kepentingan umat Islam melalui lapan asnaf seperti yang disebut dalam al-Quran.
5. Bagi semua penguatkuasa agama. Jangan percaya dengan zon selesa yang dibisikkan dan penafian yang dicanangkan oleh orang berkepentingan. Jalankan pemantauan dan penguatkuasaan menurut enakmen yang telah diputuskan.
6. Bagi orang kaya, tolong infak harta untuk menganjurkan program-program keagamaan, semoga Allah sentiasa bersama anda sekelian.
7. Bagi sekelian yang membaca, kita umat Islam terlau beriya-iya ingin menjaga hati orang bukan Islam, adakah orang bukan Islam menghormati dan menjaga sensitiviti kita? Jalankanlah tugasan masing-masing di dalam ruang lingkup kemampuan anda semua, semoga Allah membantu usaha kita.
Semoga pendedahan ini memberi inspirasi pada saya untuk terus membahu Islam, yang ingin bersama mari, yang mahu mencebek dan tidak percaya silakan, yang mahu berfikir, renungkan dan yang mahu mendokan, doakan semua umat Islam di Malaysia agar terpelihara dari agenda global orang kafir.
“Universiti Kehidupan Pengajian Sepanjang Hayat”
al-Faqir Ila Rabbihi
Muhamad bin Abdullah
Putra Heights
6 Disember 2012 jam 1.15 pagi
Patah sayap bertongkat paruh, memperjuangkan dan mempertahakan Islam akan tetap menjadi keutamaan di dalam hidupku, biar berputih tulang, jangan berputih mata…
al-Fatihah untuk seluruh pejuang Islam terdahulu, tuan-tuan guru kita terdahulu dah pahlawan Islam Nusantara yang telah mendahului kita di dalam tugasan mereka. Hari ini tugasan itu diwariskan pada kita, semoga kita dapat menyambungnya, amin…

Mendidik remaja tadabbur Al-Quran


GENERASI al-Quran, dibentuk semenjak zaman Nabi Muhammad SAW lagi. Generasi yang memahat hatinya dengan al-Quran kerana berpegang dengan saranan Baginda yang mengatakan bahawa tidak akan sesat bagi sesiapa yang berpegang dengan al-Quran dan Sunnah Baginda.

Namun tidak dinafikan, cabaran bagi generasi al-Quran begitu hebat pada zaman ini yang dikenali  sebagai zaman berteknologi tinggi. Umat Islam perlu menjadikan kehidupan mereka seiring dengan teknologi moden tetapi dengan panduan dan batasan yang jelas agar diri tidak berubah menjadi haiwan teknologi semata-mata.

Jiwa al-Quran jiwa hamba

Pendakwah bebas, Amly Asenar berkata, generasi al-Quran bermaksud generasi berjiwa hamba kerana melazimi al-Quran dan hidup dengan panduan al-Quran dengan patuh kepada kata-kata Tuhan yang menciptanya. Inilah asas yang perlu ada iaitu hati seorang hamba bukan manusia.

Hati seorang manusia akan sentiasa melupakan Tuhannya apabila ia senang dan kembali mengingati-Nya apabila ditimpa kecelakaan dan kesempitan.

“Namun hati seorang hamba sentiasa mendengar dan menghayati kata-kata Tuhannya pada setiap masa sama ada siang dan malam dan pada setiap keadaan sama ada senang atau susah. Jiwa hamba inilah yang didapati dengan proses tadabbur iaitu menghayati dan memahami isi kandungan al-Quran.

“Kekuatan bagi orang beriman ialah hatinya maka tanpa disedari itulah juga sasaran utama bagi musuh-musuh Islam untuk melalaikan hati itu dengan pelbagai bentuk hiburan dan keseronokan yang tiada batasan kepada masyarakat Islam terutama para remaja,” katanya.

Imam Muhammad al- Ajurri mengatakan: “Tidakkah kamu memerhatikan kepada Tuhan mu bagaimana Dia menggalakkan manusia semua agar tadabbur kala-Nya. Sesiapa yang tadabbur kalam-Nya, nescaya ia akan kenal Tuhannya, akan kenal kebesaran kekuasaan dan kekuatan-Nya, akan kenal kebesaran kelebihan-Nya ke atas orang-orang yang beriman, akan kenal perkara yang diwajibkan ke atas hamba-Nya.”

Maka tidak hairanlah apabila Sayidina Ali juga mengatakan,

“Tiada kebaikan dalam ibadah bagi yang tidak memahaminya dan tiada kebaikan dalam membaca al-Quran bagi yang tidak tadabbur padanya.”

Didikan awal

Amly berkata, kehidupan berteknologi tidak semestinya merosakkan remaja. Perkara yang paling penting ialah kesedaran untuk mempersiapkan mereka dengan jiwa al-Quran. Bagaimanakah caranya? Caranya ialah dengan didikan peringkat awal yang betul dan konsisten iaitu bermula dari umur bayi sehingga penghujung sekolah rendah.

“Didikan awal ini penting kerana saat ini, pendengaran dan penglihatan amat mudah terkesan dan dilenturkan. Oleh itu, sewajarnya mereka dihidangkan dan diprogramkan dengan pengisian berasaskan al-Quran.

“Malangnya mereka lebih banyak disogokkan dengan rancangan kanak-kanak dan lagu-lagu yang melalaikan. Berikut antara perkara yang boleh dilakukan oleh ibu bapa dan penjaga yang mahukan anak mereka membesar dalam suasana al-Quran:-

Bagi yang berumur tiga tahun ke bawah, tidak mendedahkan kepada rancangan kartun, lagu yang seumpamanya yang diambil dari Barat tetapi menumpukan kepada memperdengarkan bacaan al-Quran dan zikir-zikir yang menarik.

Bagi yang berumur empat tahun ke atas, rancangan kartun dan lagu perlu dipilih bersesuaian dan dihadkan masa tontonnya tanpa meninggalkan bacaan al-Quran dan zikir-zikir.

Menjadikan waktu perdana bersama bersama keluarga untuk mendengar al-Quran dan zikir seperti 15 minit sebelum azan Maghrib atau selepas Maghrib. Pemilihan masa adalah anjal, tidak semestinya waktu Maghrib kerana yang penting wujudnya zon masa berzikir dan mendengar al-Quran secara bersama.

Ini akan memperkuatkan lagi keinginan anak-anak kepada al-Quran.

Guru, ibu bapa boleh memperdengarkan ringkasan daripada juzuk amma sebagai latihan kepada  si anak memahami isi kandungan dan mengambil pengajaran daripadanya. Secara tidak langsung minda tadabbur dibentuk kepada mereka.

Melatih mereka mendengar dan menghafal surah kecil dalam al-Quran dan juga zikir-zikir,” katanya yang juga penulis motivasi ini.

Apa sahaja yang diberikan kepada mereka ketika kecil akan dihayati. Masyarakat kita melewatkan pembelajaran al-Quran sehingga sudah pandai membaca tetapi dalam masa sama mereka sudah menghafal berpuluh-puluh lagu yang sudah tersedia terpahat lebih awal daripada al-Quran.

Remaja dan al-Quran

Didikan awal seperti disebutkan amatlah penting supaya anak-anak meningkat usia remaja, hati mereka tidak kosong malahan al-Quran sudah bertapak sekurang-kurangnya. Ini akan memudahkan proses pembentukan generasi al-Quran yang seterusnya, iaitu bagaimana cara untuk tadabbur al-Quran.

“Bagi remaja hari ini yang kebanyakan berjiwa kosong maka usaha untuk mendekatkan mereka dan memotivasikan mereka untuk membaca al-Quran terlebih dahulu amat penting.

“Lisan akan membawa ke hati dan juga pemikiran. Oleh sebab itu, kita disarankan membaca al-Quran tanpa putus dan para sahabat di zaman Nabi mereka beratus-ratus kali mengkhatamkan bacaan al-Quran. Saya berpandangan, pendekatan untuk membawa remaja kepada al-Quran perlu ditingkatkan, antaranya;

Maksud al-Quran dipelajari secara mudah dan interaksi dua hala dalam memahami dilakukan. Berfikir secara berkelompok lebih menyeronokkan dan lebih mudah dihayati.

Isi kandungan al-Quran diterjemahkan kepada tindakan dan kertas kerja projek yang boleh dimanfaatkan oleh semua remaja sama ada bersifat kem, ekspedisi, kembara dan sebagainya,” katanya.

Menurutnya, perkara yang paling penting ialah memahamkan remaja bahawa al-Quran adalah kehidupan dan ia boleh difahami dengan pelbagai cara. Duduk dan belajar memahami al-Quran sememangnya penting tetapi ilmunya perlu dihidupkan agar impak tadabbur itu akan lebih berkesan dan berkualiti.

Sabtu, Disember 08, 2012

Belajar Menengah-Universiti Al-Azhar Mesir


Belajar Menengah-Universiti Al-Azhar Mesir


PENDAFTARAN KE MA'AHAD AL-AZHAR MESIR 2013-2014 KINI DIBUKA !

Mereka yang tamat ke program ini bakal mendapat Sijil/Syahadah yang diiktiraf Malaysia, Kos pengajian&kehidupan yang rendah dan selesa serta berpeluang meneruskan ke peringkat yang lebih tinggi ke Universiti Al-Azhar dan universiti2 lain juga universiti2 tempatan.

Syarat-syaratnya:
1- Berumur 12-35 tahun (lelaki/perempuan)
2- Berkemampuan (Diri&Kewangan)
3- Berazam berkemahuan tinggi mahu belajar (tidak perlu apa2 sijill)

Tarikh pendaftaran ke (2): 5. Disember 2012 - 5. Januari 2013. Hubungi 006 019 3801979 (serius/telah bersedia sahaja).

*  
1-Terbuka utk semua warganegara Malaysia, Singapore, Brunei SAHAJA. (Bagi Malaysian lepasan UPSR, PMR, SPM, STAM, THANAWI, PONDOK dan lain2 bagi Singaporian&Brunei apa-apa sijil agama yang dimiliki)
2-Tempat belajar di Ma'ahad Bu'uth Islamiah Kaherah Mesir. 
3-Belajar menengah iaitu Sanawi Al-Azhar selama 2 atau 3 tahun kemudian dapat sijil Sanawi Al-Azhar mesir yg diiktiraf yg membolehkan masuk Universiti Al-Azhar pula. 
4- Kos yuran, sara hidup, belanja dan lain2 disana dalam RM400 ringgit malaysia setiap bulan lebih kurang USD150 sebulan. 
5-Tidak tahu bahasa arab juga diterima krn akan diadakan kursus B.Arab di Mesir. Daftar segera

Bekas Banduan Neraka


Bekas Banduan Neraka
Disember 6, 2012 — sulaiman
..Setelah Allah menetapkan hukuman di antara para hamba dan hendak mengeluarkan mereka dengan rahmatNya maka Dia akan memerintahkan para malaikat agar mengeluarkan mereka dari Neraka tersebut. Manakala Orang yang tidak menyekutukanNya dan Dia menghendakinya maka mereka dikeluarkan dari sana dengan rahmatNya, begitu juga bagi orang yang berkata sesungguhnya para Malaikat mengenali mereka semasa dalam Neraka melalui kesan sujud. Api Neraka akan memakan seluruh anggota anak Adam kecuali kesan sujud. Allah telah mengharamkan api Neraka dari memakan kesan tersebut. Kemudian mereka dikeluarkan dari Neraka dalam keadaan hangus, lalu disiram dengan air kehidupan, maka pulihlah mereka sebagaimana tumbuhnya benih dalam kawasan banjir iaitu lumpur. (Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a )

Orang Islam yang telah dibersihkan dari dosa dan setelah selesai menerima azab neraka, mereka akan dikeluarkan umpama bekas banduan.  Mereka dipakaikan kalung atau di dahi mereka tertulis dengan perkataan “bekas ahli neraka”.

Daripada Anas bin Malik r.a, dari nabi s.a.w Baginda bersabda:” Keluar satu kaum dari neraka sedangkan kulit mereka telah hitam kerananya. Mereka masuk ke dalam syurga, sedangkan isi syurga menamakan mereka ‘orang-orang dari jahannam’ (Bukhari).

“:…..Lalu mereka keluar bagaikan mutiara. Di leher mereka ada kalung, sehingga para ahli syurga dapat mengenali mereka. Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan Allah, yang dimasukkan oleh Allah ke dalam syurga, tanpa amal yang mereka kerjakan dan tanpa kebaikan yang mereka lakukan.

Namun di syurga Allah swt memenuhi apa saja permintaan ahlinya, lalu mereka meminta agar dipadamkan tanda “bekas ahli neraka” itu.

Diriwayatkan daripada Abdullah bin Mas’ud r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya aku benar-benar tahu ahli Neraka yang terakhir keluar dari sana dan ahli Syurga yang terakhir masuk ke Syurga iaitu seseorang yang keluar dari Neraka secara merangkak lalu Allah Taala berfirman kepadanya: Pergilah, masuklah ke dalam Syurga, maka dia pun mendatangi Syurga, tetapi terlintas di fikirannya bahawa Syurga itu telah pun dipenuhi. Oleh itu dia kembali dan berkata: Wahai Tuhanku, aku telah temui Syurga itu namun ianya telah penuh. Allah Taala berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam Syurga, maka dia pun mendatangi Syurga, tetapi terlintas di fikirannya bahawa Syurga itu telah dipenuhi lalu kembali semula dan berkata: Wahai Tuhanku, aku telah temui Syurga itu tetapi ianya telah penuh. Allah berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam Syurga kerana sesungguhnya ianya untukmu seumpama dunia dan sepuluh kali gandanya atau sesungguhnya ianya bagimu sepuluh kali ganda dunia. Lelaki itu berkata: Adakah Engkau mengejekku atau mempermain-mainkan aku, kerana Engkau adalah Maharaja? Maka Abdullah bin Masud berkata: Aku benar-benar melihat Rasulullah s.a.w tertawa sehingga ternampak gigi geraham baginda dan dikatakan: Itulah Ahli Syurga yang paling rendah kedudukannya

Di Balik Nama-nama Insan Termulia


Di Balik Nama-nama Insan Termulia
Friday, 07 December 2012 16:12
Allah SWT pun telah memujinya, bahkan menganugerahkan asma dan sifat-Nya, Ar-Ra’ufur Rahim.





Tak ada seorang nabi atau rasul pun atau siapa saja manusia lain yang memiliki nama sebanyak nama Ra­sulullah SAW. Banyaknya nama itu me­nunjukkan kemuliaan dan ketinggian de­rajat sang penyandang nama. Wajarlah bila beliau memiliki nama-nama yang sa­ngat banyak, karena tak ada yang meng­ingkari bahwa beliaulah manusia dan makhluk termulia. Beliaulah makhluk yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah SWT.

Nama beliau yang banyak itu sebagi­annya disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan sebagian lagi dalam ucapan-ucapan beliau sendiri. Kurang lebih dua ratus nama beliau yang ulama kumpulkan dari ayat-ayat dan hadits-hadits itu. Se­bagian besarnya disebutkan dalam Bonus Doa edisi ini, yang menyajikan be­berapa shalawat yang mengandung se­bagian nama beliau.

Dalam Al-Qur’an, nama Nabi Muham­mad SAW disebutkan dengan beberapa nama. Di antaranya, “Muhammad”. Nama be­liau ini antara lain disebutkan dalam ayat-ayat yang artinya sebagai berikut:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama me­reka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud men­cari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS Al-Fath: 29).

“Muhammad itu tidak lain hanyalah se­orang rasul, sungguh telah berlalu se­belumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa ber­balik ke belakang, ia tidak dapat menda­tangkan mudharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan ke­pada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali `Imran: 144).

“Dan orang-orang mukmin dan ber­amal shalih serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka. Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan me­reka dan memperbaiki keadaan me­reka.” (QS Muhammad: 2).

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah ba­pak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-Ahzab: 40).

Nama lainnya yang disebutkan ada­lah Thaha, yaitu dalam ayat yang artinya, “Thaha. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (QS Thaha:1-2). Selain itu Ya-Sin, “Ya-Sin. Demi Al-Qur’an, yang penuh hikmah. Sesungguhnya kamu salah se­orang dari rasul-rasul.” (QS Ya-Sin:1-3).

Selain nama-nama tersebut, bebe­rapa panggilan yang dimaksudkan Nabi Muhammad SAW juga digunakan Al-Qur’an, antara lain Rasul, Nabi, Ummiy, Syahid, Mubasysyir, Nadzir, Da’i ilallah, Siraj Munir, Ra’uf Rahim, Nadzir, Mubin, Mudzakkir, Rahmat, Ni’mah, Hadi.

Beliau adalah Muhammad sebagai­mana yang disebutkan oleh Allah SWT, “Muhammad adalah utusan Allah.” Beliau juga bernama Ahmad, Thaha, dan Ya-Sin. Dalam sebuah haditsnya beliau ber­sabda menyatakan dirinya, “Aku mempu­nyai lima nama: Aku Muhammad, aku Ahmad, aku Al-Mahi (penghapus), yang de­nganku Allah menghapus kekafiran, aku Al-Hasyir (pengumpul), di mana manusia dikumpulkan di belakangku, dan aku Al-Aqib, yang tak ada nabi sesudah­ku. Dan Allah juga menamaiku Ar-Raufur Rahim (Yang Pengasih dan Yang Penya­yang).” (Muttafaq `alaih).

Beliau juga memberitahukan kepada kita, nama lain dirinya yakni, “Aku Mu­hammad, Ahmad, Al-Muqaffi (nabi ter­akhir), Al-Hasyir, Naby At-Taubah, dan Naby Ar-Rahmah.” (HR Muslim).

Dikenal sejak Nabi Adam

Dalam sebuah haditsnya beliau juga mengatakan, “Namailah diri kalian de­ngan namaku, tetapi jangan ber-kun-yah (julukan yang biasanya menggunakan nama ayah atau anak) dengan kun-yah­ku. Hanya akulah Qasim (pembagi). Aku membagi di antara kalian.” (HR Muslim). Jadi, kita tidak boleh menggunakan atau memberi nama “Abul Qasim” kepada keturunan kita.

Di antara nama-nama beliau, nama “Muhammad” adalah nama beliau yang paling termasyhur. Secara etimologis, akar katanya al-hamd dalam bentuk kata isim maf ’ul (yang diperlakukan), meng­andung makna yang terpuji atau yang dipuji. Di dalam hadits Jubair bin Muth`im RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Aku mempunyai beberapa nama: Aku Muhammad (yang terpuji), aku juga Ahmad (yang paling memuji atau paling bagus pujiannya kepada Allah), dan namaku juga Al-Mahi (Penyirna), karena dengan nama ini Allah menyirnakan ke­kufuran.”

Nabi SAW terpuji di sisi Allah SWT, terpuji di sisi para malaikat, terpuji di sisi saudara-saudaranya, para nabi, dan ter­puji di kalangan penduduk bumi semua. Semua sifat beliau sempurna dan terpuji di mata orang-orang yang berakal. Ter­bukti, Tuhannya, Allah SWT, telah me­mujinya bahkan menganugerahkan asma dan sifat-Nya, Ar-Ra’ufur Rahim. Nama ini Allah sematkan kepada Baginda Nabi SAW dalam firman-Nya yang artinya, “Sung­guh telah datang kepadamu se­orang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat meng­inginkan (keimanan dan kese­lamat­an) bagimu, amat belas kasihan lagi pe­nyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS At-Tawbah: 128).

Di antara nama beliau juga adalah Ahmad. Umat beliau disebut Al-Hamma­dun (orang orang yang banyak dan terus menerus memuji). Mereka memuji Allah SWT di kala senang dan susah. Khutbah beliau selalu diawali dengan al-hamd (puji­an), demikian pula surat-surat beliau. Dan di tangan beliau pula kelak di hari Kia­mat akan berkibar bendera pujian (liwa’ al-hamd). Setelah beliau bersujud di sisi Tuhannya untuk mendapatkan sya­fa’at dan memperoleh izin memberikan sya­fa’at, Allah memuji beliau dengan pujian ke­menangan bahwa beliau adalah Sha­hibul Maqam al-Mahmud (Pemilik Maqam yang Terpuji), yang menjadi dam­baan orang-orang terdahulu dan kemudi­an.

Beliau juga mahmud (yang dipuji), ka­rena telah memenuhi bumi dengan petun­juk, iman, ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, membuka hati, menyingkap kege­lapan penduduk bumi, menyelamatkan me­reka dari perangkap setan, dari ke­musyrikan, kekufuran, dan kebodohan. Berkat beliau, para pengikutnya meraih kemuliaan dunia dan akhirat. Beliau telah mengenalkan mereka pada jalan menuju keridhaan Allah. Tiada sesuatu yang baik kecuali beliau telah memerintahkannya, dan tidak ada suatu yang jelek kecuali be­liau telah melarangnya. Beliau mene­gaskan, “Segala sesuatu yang dapat mengantar kalian ke surga telah kami pe­rintahkan kalian untuk mengerjakannya, dan setiap sesuatu yang mengantar kali­an ke neraka telah kami larang kalian mengerjakannya.”

Nama “Muhammad” sangat feno­menal dan telah dikenal semenjak zaman Nabi Adam AS masih bersemayam di surga. Menurut sebuah riwayat, Nabi Adam AS melihat nama “Muhammad” di dinding-dinding surga yang  selalu di­sandingkan dengan asma Allah SWT.  Adam menjadi penasaran dengan nama itu dan memberanikan diri untuk mena­nya­kan langsung rahasia di balik penulis­an nama “Muhammad”.

Allah SWT menjawab, “Dia adalah ke­kasihku, Muhammad namanya. Dialah sa­lah satu dari keturunanmu yang akan diutus sebagai nabi terakhir. Walaupun diutus sebagai nabi terakhir, Muhammad adalah pemimpin para utusanku di akhirat kelak. Dan Aku menciptakan alam se­mesta seisinya ini semata-mata hanya untuk dia.”

Shalawat dan Salam kepada Nabi

Dalam masalah aqidah, keislaman se­seorang tidak akan sah dan tidak disebut sebagai muslim sebelum nama “Muhammad” disebutkan setelah nama Allah SWT, yakni ketika mengucapkan kalimah syahadat, demi melengkapi penyaksian akan ketuhanan Allah SWT, yang mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai rasul-Nya.

Para salaf shalih sangat menganjur­kan untuk memberikan nama anak-anak kita dengan nama “Muhammad” atau “Ahmad”. Mereka berkeyakinan bahwa se­buah keluarga akan lebih mendapat­kan keberkahan dan ketenteraman jika salah seorang anaknya dinamai dengan nama  Nabi ini. Bahkan ada sebagian guru agama, yang mengerti rahasia dari nama ini, merasa sungkan dan enggan mem­berikan hukuman atau memukul mu­rid-mu­ridnya yang kebetulan bernama “Mu­hammad” atau “Ahmad”, walaupun dia me­mang bersalah dan layak dihukum. Hal ini demi adab dan menjaga diri dari men­ciderai keagungan Nabi.

Bahkan menurut sebuah keterangan yang lemah (dhaif), para malaikat yang menjaga neraka dan menyiksa orang-orang yang berdosa di sana akan mem­berikan keringanan khusus kepada para muslimin yang sempat mampir di neraka dan memiliki nama ini, sehingga tidak me­nerima hukuman yang sama dengan para penghuni neraka lain sebelum akhirnya dimasukkan ke surga.

Berhati-hatilah dan bersikaplah bijak sebisa mungkin dengan orang-orang yang bernama Muhammad, bukan ka­rena kita takut, enggan, atau apa pun, akan tetapi demi menjaga martabat Nabi dan kemuliaannya. Penghormatan kita kepada orang-orang yang kebetulan me­miliki nama tersebut akan dibalas oleh Allah SWT, karena Allah sangat mencin­tai beliau.

Banyak keistimewaan yang meriwa­yatkan kelebihan orang yang bernama Mu­hammad. Dalam sebuah hadits di­katakan, “Apabila kamu namakan sese­orang itu Muhammad, hendaklah kamu hor­mati dia dan lapangkan tempat bagi­nya di dalam suatu majelis, dan jangan masamkan mukamu kepadanya.” Dan diriwayatkan pula bahwa tidak ada suatu kelompok yang mengadakan musya­wa­rah dan ada bersama mereka seorang yang bernama Muhammad, namun me­reka tidak mengajaknya ke dalam musya­warah itu, melainkan mereka tidak akan diberkahi.

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Malikah dari Ibnu Juraij dari Nabi SAW, yang telah bersabda, “Barang siapa me­miliki istri yang sedang mengandung dan bercita-cita hendak menamakan anak yang masih di dalam rahim itu Muham­mad, Allah Ta`ala akan mengurniakan ke­padanya anak lelaki; dan jika ada seorang yang bernama Muhammad di dalam se­buah rumah, niscaya Allah Ta`ala mengur­niakan berkah di dalam rumah itu.”

Seorang perempuan telah berkata kepada Rasulullah SAW, “Hai Rasulullah, aku ini seorang perempuan yang tiada mempunyai anak lelaki yang hidup.”

Maka Rasulullah SAW menjawab, “Bernazarlah engkau kepada Allah bah­wa, apabila engkau mendapat anak lelaki, engkau akan namakan anak itu Muham­mad.”

Maka ia pun melakukannya, ternyata anak lelakinya hidup selamat dan baik.

Telah diriwayatkan dari Abu Uma­mah, “Barang siapa mendapat anak lelaki lalu ia namakan dia Muhammad karena menghendaki keberkahannya, ia dan anaknya akan masuk surga.” (Disebutkan dalam kitab Al-Firdaus). Riwayat lain menyebutkan bahwa Ali bin Abu Thalib mengatakan, “Tidak ada suatu jamuan makan lalu datang hadir kepadanya se­orang yang namanya Ahmad atau Mu­hammad melainkan Allah Ta`ala memu­liakan rumah itu dua kali lipat.”

Sesungguhnya Allah dengan segala kekuasaan-Nya telah mengutus Nabi-Nya, Muhammad SAW, dan telah mem­berinya kekhususan dan kemuliaan untuk menyampaikan risalah. Beliau menjadi rahmat bagi alam semesta dengan risa­lah tersebut dan menjadi sebab sese­orang mendapat petunjuk ke jalan yang lurus. Maka sudah semestinya seorang hamba taat kepadanya, menghormati­nya, dan melaksanakan hak-haknya. Dan salah satu dari hak beliau atas umatnya adalah agar mereka membacakan shala­wat dan salam kepada beliau sebagai bentuk rasa terima kasih atas jasa-jasa beliau dan sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan terhadapnya.

Allah Ta‘ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersala­watlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56). Ibnul Qayyim berkata da­lam kitabnya, Jalaul-Afham, “Maksudnya, jika Allah dan malaikat-malaikat-Nya ber­shalawat untuk Rasul-Nya, hendaklah ka­lian juga bershalawat dan memberi salam untuknya, karena kalian telah menda­pat­kan berkah risalah dan usahanya, seperti kemuliaan di dunia dan di akhirat.”

Namun sangat disayangkan, banyak umat Islam yang sudah melupakan hak yang agung tersebut. Mereka menyama­kan penyebutan nama beliau dengan penyebutan tokoh-tokoh dunia lainnya, baik dari kalangan umat muslim maupun kafir. Penyebutan predikat Nabi dan Rasul Allah serta mengiringi penyebutan­nya dengan shalawat dan salam, baik da­lam pidato maupun tulisan mereka, se­makin jarang ditemukan. Ini gambaran dari sikap yang tidak menghormati beliau sebagai utusan Allah yang dimuliakan.

Menyebut nama Rasulullah tanpa menyertakan shalawat dan salam kepada beliau termasuk sikap kurang sopan dan mengurangi hak Nabi. Bahkan para ulama memakruhkan hanya menyerta­kan salam tanpa shalawat dengan mengu­capkan ‘alaihis-salam.

Wajib Memenuhi Panggilan Nabi

Imam Al-Baihaqi menukil dalam kitab­nya, Syu‘ab al-Iman, dari Al-Halimi, ia ber­kata, “Sudah dimaklumi bahwa hak Nabi sangat mulia dan agung serta mulia dan terhormat bagi kita. Hak beliau atas kita jauh lebih daripada hak seorang tuan atas budak-budaknya atau orangtua atas anak-anaknya. Karena Allah Ta‘ala telah menyelamatkan kita dari siksa neraka di akhirat melalui beliau. Allah juga menja­min arwah, badan, kehormatan, harta, dan keluarga serta anak-anak kita di dunia melalui beliau, juga menunjuki kita dengan perantara beliau. Sebagaimana juga apabila kita menaati beliau, Allah akan menyampaikan kita ke surga Na’im. Adakah satu nikmat yang bisa menyamai nikmat ini? Pemberian mana yang bisa menyamai pemberian ini?” Allah pun me­wajibkan kita menaati­nya, mengancam kita dengan neraka bila mendurhakainya, dan menjanjikan surga bila mengikutinya.

Maka derajat mana yang bisa menya­mai derajat ini? Dan kedudukan mana yang bisa menyerupai kemuliaan ini? Maka wajib bagi kita untuk mencintai, mengagungkan, dan menghormati beliau lebih daripada pernghormatan seorang budak kepada tuannya atau seorang anak kepada orangtuanya. Seperti inilah petunjuk Kitabullah, sehingga Allah Azza wa Jalla memerintahkan secara langsung dalam kitab-Nya yang artinya, “Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan meng­ikuti cahaya yang terang yang di­turunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Al-A`raf: 157). Allah mengabarkan bahwa keberuntungan hanya bagi orang yang menggabungkan iman kepada beliau dan memuliakannya. Makna memuliakan beliau dalam ayat ini sama dengan mengagungkannya, sebagaimana firman Allah yang artinya,  “Supaya kamu se­kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, memuliakannya (Rasulullah), dan menghormatinya.” (QS Al-Fath: 9).

Allah menambahkan dalam ayat ini, hak Rasulullah di tengah-tengah umatnya agar dimuliakan, dihormati, dan diagung­kan. Tidak boleh memperlakukan beliau seperti perlakuan biasa, seperti perlakuan seseorang terhadap sesamanya. Allah Ta‘ala berfirman yang artinya, “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain).” (QS An-Nur: 63).

Dikatakan bahwa makna ayat itu ada­lah demikian: Jangan kalian menyeru be­liau seperti seruan sebagian kalian de­ngan sebagian lainnya sehingga jangan menunda-nunda memenuhi panggilan­nya atau perintahnya dengan mencari-cari alasan sebagaimana alasan yang kalian gunakan untuk menunda-nunda memenuhi paggilan sebagian yang lain. Tetapi seharusnya mereka mengagung­kannya dengan segera memenuhi pang­gilannya, langsung menaatinya. Bahkan shalat pun, meskipun fardhu, tidak boleh dijadikan sebagai alasan untuk tidak me­menuhi panggilan beliau ketika memang­gil salah seorang mereka yang sedang shalat. Apabila shalat saja tidak boleh dijadikan alasan untuk menunda-nunda memenuhi panggilan beliau, amalan yang di bawahnya tentu lebih tidak pantas un­tuk dijadikan sebagai alasan.

Di antara bentuk menyamakan pang­gil­an beliau seperti panggilan antara se­sama kita adalah menyebut nama beliau seperti menyebut nama selainnya tanpa me­nyertakan shalawat dan salam, pada­hal ini tuntutan dari rasa cinta kepada be­liau. Tidak membaca shalawat untuk Ra­sulullah ketika disebut namanya merupa­kan tanda orang bakhil, berdasarkan sab­da beliau, “Orang bakhil adalah orang yang namaku disebut di sisinya lalu dia tidak bershalawat atasku.” (HR Ahmad dan An-Nasai).

Habib Ahmad bin Anis bin Abdul Kadir Basurrah: Kunci Dakwah itu Kesabaran

Habib Ahmad bin Anis bin Abdul Kadir Basurrah: Kunci Dakwah itu Kesabaran


Wednesday, 28 November 2012 09:47
www.majalah-alkisah.comKita harus sadar, Islam itu satu. Kalau Islam bentrok, pasti ada munafik atau kafir yang melakukan adu domba. Tujuannya, tidak ingin Islam damai, ingin agar Islam hancur.
Muda, energik, dan berpikir positif, itulah ciri yang menonjol dari Habib Ahmad bin Anis bin Abdul Kadir Basurrah. Ditempa di Huraidhah dan Tarim untuk menekuni dak­wah membuatnya selalu berpra­sang­ka baik dalam menyikapi persoalan yang menimpa umat Islam.
Masa kecilnya sampai kelas dua SD dihabiskannya di Arab Saudi, lalu ia pin­dah ke Indonesia dan bersekolah di Jamiat Kheir. Habib Ahmad juga sempat mencicipi sekolah Muhammadiyah se­belum akhirnya menuntut ilmu ke Hurai­dhah dan Tarim selama lima tahun lebih.
“Setamat SMA sebenarnya saya ter­tarik untuk melanjutkan kuliah, namun kedatangan Habib Muhammad Shaleh Alatas ke Jakarta yang menawarkan bel­ajar di Huraidhah membuat saya beru­bah pikiran, apalagi pergaulan saya dan juga banyak saudara adalah dengan para pendakwah,” tutur pria berusia 25 tahun ini.
“Awalnya rencana di Hadhramaut hanya dua tahun, khawatir kalau tidak betah. Ternyata malah keasyikan me­nun­tut ilmu di sana sampai hampir enam tahun. Saat kedatangan Habib Muham­mad ke Jakarta, dia bilang bahwa dia punya tempat belajar tapi belum ada pondoknya. Silakan kalau mau belajar. Saya berangkat berempat dengan te­man ke Huraidhah, ini adalah cabang pe­santren Darul Musthafa yang diasuh oleh Habib Umar Bin Hafidz,” katanya.
Mulailah pengembaraan ilmu dan prak­tek dakwah yang sesungguhnya di­lakukan di negeri para wali itu. Menurut­nya, bekalnya hanyalah  niat baik untuk menuntut ilmu dan sedikit bahasa Arab, karena ketika kecil dia sudah fasih ber­bahasa Arab.
“Saat itu kami belajar di masjid, ting­galnya mengontrak di rumah penduduk, setiap Kamis dan Jum’at kami dilepas un­tuk berdakwah masuk ke rumah pen­duduk. Di sana bertahan tiga tahun lalu saya pindah ke Rubath Tarim, asuhan Ha­bib Salim Asy- Syathiri, sempat mengi­kuti pelajaran di tempat Habib Umar Bin Hafidz selama empat puluh hari. Di ru­bath Tarim dua setengah tahun, belajar fiqih, akhlaq, nahwu, lalu hafalan Al-Qur’an, sisa hari lainnya digunakan un­tuk terjun ke dunia dakwah sampai ke pe­losok-pelosok Tarim,” ujar suami Za­hara binti Hasan Alatas ini.
Ketika sudah bermukim di Huraidhah selama setahun barulah berdiri pesan­tren, dan santrinya mulai bertambah. Me­reka yang masuk paling awal disuruh mengajar santri baru, termasuk Habib Ahmad. Dia pun ikut mengajarkan kitab Risalatul Jamiah, Safinatun Najah, dan kitab-kitab dasar lainnya. Menurut Habib Ahmad, santri juga diharuskan ikut prog­ram pesantren kilat (daurah) selama em­pat puluh hari di Pesantren Darul Mus­thafa di bawah bimbingan Habib Umar Bin Hafidz.
“Di Huraidhah kami hidup seperti orang zaman dahulu, hanya belajar dan beribadah, tidak boleh menonton, tidak boleh keluar pesantren, fasilitas modern seperti kipas angin atau AC tidak ada, padahal di sana musim panas sangat luar biasa, musim dingin juga esktrem dingin, yang kami dapatkan di situ adalah arti kehidupan. Kami paham, hidup itu se­perti itu, jangan asal enak saja. Keber­kahan ilmu kami mengertinya di situ,” tuturnya lagi mengisahkan pengalaman menjadi santri di Huraidhah dan Tarim.
Dengan suasana yang fokus seperti itu, menurutnya ilmu cepat masuk, para santri tidak tercemar dengan hal-hal yang membuat hilangnya keberkahan ilmu, seperti maksiat atau melihat hal-hal yang dilarang agama. “Tidak ada radio dan televisi, selama saya di pe­san­tren tidak pernah melihat wanita, kecuali kalau terjun ke masyarakat,” ujarnya. Dia bersyukur bisa menuntut ilmu di dua kota ilmu itu, yaitu Huraidhah dan Tarim, ka­rena menurutnya dua tempat itu sumber ilmu dan semua orang ingin ke sana un­tuk menuntut ilmu.
Ceramah Dadakan
Kesiapan mental adalah salah satu fokus yang sangat diperhatikan ketika menuntut ilmu di Huraidhah. Menurut Habib Ahmad, jadwal para santri diatur dengan ketat dan disiplin, mulai dari ba­ngun sebelum subuh sampai nanti tidur lagi jam sebelas malam.
“Satu jam sebelum subuh para santri  dibangunkan, lalu kami membaca adzkar (dzikir-dzikir), sampai adzan subuh. Se­belum shalat, menunggu iqamah, adzkar lagi. Setelah shalat Subuh, adzkar lagi, lalu membaca Wirdul Lathif dan wirid Habib Abubakar bin Salim.
Setelah itu kami belajar ilmu nahwu, balaghah, sampai makan pagi sekitar jam 09.00. Setelah makan pagi, kami rehat se­jenak lalu nanti dibangunkan sekitar jam 10.30. Kemudian ada dars (pelajaran), yang materinya bergantian, ten­tang hadits, sirah, aqidah.
Setelah shalat Zhuhur, kami setor hafalan kepada guru dan pembimbing, lalu acara makan siang, dan dilanjutkan dengan istirahat,” ujar Habib Ahmad.
“Sebelum adzan ashar, kami sudah ada di masjid, menunggu imam datang, lalu berdzikir, membaca Wirdul Lathif, su­rah Al-Waqi’ah, kemudian rauhah, mem­bahas kitab-kitab aqidah, tasawuf, akh­laq, yang berhubungan dengan keber­sihan hati.
Jam lima sore ada waktu kosong. Biasanya santri memanfaatkan untuk main bola.
Sebelum maghrib, kami sudah ada di masjid lagi, bedzikir, shalat berja­ma’ah. Setelah itu kami membaca Al-Qur’an, tiap kelompok lima orang, satu hari satu juz. Targetnya setiap hari Ka­mis khatam Al-Qur’an.
Menunggu adzan isya, kami mem­baca Ratib Alatas, setelah itu membaca fiqih, sampai waktu iqamah.
Setelah shalat Isya berjama’ah, kami membaca hadits, sampai setengah se­pu­luh malam. Setelah itu muraja’ah, me­nyiapkan dan membaca apa yang akan dipelajari besok paginya.
Jam sebelas malam lampu dimati­kan. Tidurnya ada yang menjaga secara bergiliran. Jadi dua jam lalu bangun, men­jaga yang tidur, begitu terus sampai menjelang subuh. Jadi dalam pesantren kami tidak pernah berhenti dari dzikir dan orang yang beraktivitas menuntut ilmu.”
Tidak hanya di pesantren, para santri juga disuruh terjun ke masyarakat. Agar mental mereka terlatih dengan baik dan siap dengan segala kondisi apa pun. Habib Ahmad pernah kaget ketika baru empat bulan dia di sana langsung oleh Habib Muhammad diminta untuk mem­berikan mauizhah. Dia ingin memberikan alasan bahwa bahasa Arab-nya masih terpatah-patah, tapi belum sempat berbi­cara sudah ditinggal oleh gurunya itu.
Ketika saatnya datang, Habib Ah­mad pun menyampaikan kepada hadirin yang memenuhi masjid bahwa ia mem­punyai keterbatasan, jadi dia hanya ber­pidato sebentar.
Tapi ketika pulang, Habib Muham­mad malah memuji ceramahnya. “Itu mo­tivasi agar santri tidak patah sema­ngat, walau saya tahu apa yang saya lakukan jauh dari harapan,” tutur Habib Ahmad sambil tertawa. Itulah yang mem­buatnya sampai sekarang tidak pernah takut menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar, karena mentalnya sudah dilatih dengan baik.
“Wasiat dari guru, kita tidak ada wak­tu berhenti untuk berdakwah dan menun­tut ilmu. Jadi kalau pulang jangan sam­pai berhenti belajar. Bisnis tidak apa tapi jangan sampai melupakan dakwah,” ujar­nya menirukan gurunya, dan itu yang dipegangnya sebagai bekal berdakwah.
Dakwah Penuh Tanggung Jawab
Sepulang dari Hadhramaut, Habib Ahmad mulai berdakwah dengan lebih menonjolkan akhlaqul karimah. Dia ber­dakwah dengan tutur bahasa yang le­mah lembut dan penuh kesabaran. Dia ingin mencontoh kesabaran Rasulullah SAW. Awalnya dia hanya mengisi ta’lim yang ustadznya berhalangan, namun setelah itu jama’ah makin banyak yang menyukai gaya berdakwahnya, terutama anak muda. Maka dibentuklah Majelis Ta’lim Ar-Ridwan, yang bermarkas di mas­jid dekat rumahnya di Cililitan Kecil, Jakarta Timur. Jadwal ta’limnya sehabis maghrib tiap Jum’at, dan yang dibahas masalah fiqih, lalu membaca Maulid Simthud Durar.
Selanjutnya di Gandaria, itu dua kali sebulan, yang dibahas aqidah, meng­gunakan kitab Aqidatul Awwam. Se­dangkan di Condet di Majelis Ta’lim Muassasatul Bagir jadwalnya minggu per­tama dan ketiga tiap bulan. Di samping itu dia juga mengisi manasik haji dan umrah di sebuah perusahaan travel dua kali sebulan, lalu sisanya mungkin ada undangan dari berbagai tempat.
Menurutnya, dakwah itu penuh tang­gung jawab. “Masalah-masalah faktual kadang kita tahu jawabnya tapi takut mengutarakannya. Kalau Imam Syafi’i jika ditanya beliau diam lebih dulu. Lama sekali diam. ‘Kenapa tiap ditanya antum diam, ya Imam?’
Dia menjawab, ‘Kalau saya buru-buru menjawab, takut salah. Dia ingin memastikan bahwa jawaban itu tepat’,” kata Habib Ahmad.
Dia melanjutkan, dakwah saat ini ada­lah hasil dari perjuangan ulama-ulama dan habaib zaman dulu, yang pen­uh rintangan. Kita sekarang tinggal meneruskan. Ibarat kopi, memasak dan mengaduknya sudah dilakukan para pendahulu kita, yang sekarang tinggal meminumnya.
Dakwah yang dilakukannya terutama adalah kepada para pemuda, khususnya pemuda yang rusak, suka mabuk, dan sejenisnya. “Dakwah harus disampaikan dengan cara yang baik, jangan membuat orang antipati. Ada akhlaqnya dalam menegur orang, jangan sampai dia malu. Kita harus selalu berbaik sangka. Kalau ada yang masih suka mabuk, dia minum tiga botol sehari, misalnya, nasihati agar bisa mengurangi, doakan agar dia cepat sadar,” ujarnya.
“Nahi munkar dalam agama, kalau kita tidak bisa mengubah dengan ta­ngan, dengan cara mengingatkan seca­ra lembut. Seperti Allah SWT memerin­tah­kan kepada Nabi Musa AS agar men­dakwahi Fir’aun dengan perkataan yang lembut, padahal Allah SWT Mahatahu bahwa Fir’aun akan mati dalam keadaan kafir....”
Di samping itu menurutnya penting juga terapi seperti yang dilakukan Habib Rizieq dengan FPI-nya. Kalau tidak, ke­munkaran akan semakin leluasa. Jadi per­lu sinergi. Melihat situasi dan kondisi sangat perlu dalam berdakwah. Ada saat tertentu diperlukan ketegasan.
Menurutnya, dakwah itu perlu kesa­baran. Hanya itu tantangannya. Kalau ancaman fisik, tidak ada yang berarti. Tidak seperti di negara lain. “Kita harus mencontoh Rasulullah SAW. Pernah suatu ketika beliau mendapatkan se­orang ibu tua yang sedang membawa ba­rangnya setelah dari pasar, Rasulullah SAW kasihan melihat barang yang di­bawanya tampak begitu berat, beliau lalu menawarkan diri untuk membawanya. Sampai ke tujuan rumahnya, si ibu tadi be­lum pernah melihat dan mengenal Ra­sulullah SAW, sampai di rumahnya dia berkata, ‘Wahai anak muda, aku ingin mem­beri nasihat kepadamu yang ber­guna untukmu dunia dan akhirat. Kalau suatu waktu nanti kamu berjumpa de­ngan seorang pemuda yang bernama Muhammad, jangan pernah sekali-kali kamu percaya, karena dia adalah pem­bohong besar.’ Padahal yang dihadapi­nya adalah Muhammad.
Kalau kita mungkin sudah naik pitam mendengar omongan orang tua itu. Su­dah dibantu malah berkata seperti itu. Tapi dakwah itu adalah akhlaq, itu yang menarik orang. Akhlaq itu lebih fasih dari mulut. Lalu Rasulullah SAW dengan te­nang mengatakan, ‘Bagaimana kalau anak muda itu adalah aku?’
Perempuan tua itu kaget dan me­mandang Rasulullah, tidak percaya. Se­telah itu ia menangis, dan akhirnya wani­ta itu masuk Islam karena agungnya akh­laq Rasulullah SAW. Itulah Islam.
Kalau ada orang yang membenci dakwah kita, kita temui mereka seraya minta maaf. Hal itu akan membuat mereka malu dan nanti akan penasaran. Islam itu awalnya akhlaq, pertengahan akhlaq, dan akhirnya akhlaq.
Ada ulama yang mengarang buku dan bertanya, ‘Kenapa umat Islam tersingkir dari percaturan dunia?’
Salah satu jawabannya adalah karena orang kafir zaman sekarang menggunakan akhlaqnya orang Islam, dan sebaliknya orang Islam mengguna­kan akhlaq orang kafir. Coba perhatikan bagaimana perilaku orang di jalan raya, bagaimana akhlaq mereka,” kata Habib Ahmad.
Menurutnya, dakwah itu harus ber­satu dari semua pihak, baik itu donatur, media, kekuasaan, semuanya harus bersatu. Media jangan hanya diisi oleh hal-hal yang dangkal, karena pengaruh media sangat luar biasa. Banyak masya­rakat yang tidak tahu hal-hal elementer dalam agama, orang sekarang kan hanya ingin tahu yang populer, misalnya seperti perbedaan pendapat kelompok-kelompok.  Bagaimana urusan akan beres kalau hal yang mendasar mereka tidak lakukan, ingin rizqi lancar dan berkah tapi shalat tidak pernah. Kita butuh kesabaran dan kebersamaan dalam dakwah.www.majalah-alkisah.com
Berbicara tentang kesabaran, manu­sia yang paling sabar adalah Rasulullah SAW. “Kunci kesabaran itu ingat kesa­bar­an Rasulullah SAW saat berdakwah, diapakan saja beliau sabar. Jangan hanya karena diomongin lalu ada yang berhenti berdakwah.
Kita harus sadar, Islam itu satu. Kalau Islam bentrok, pasti ada munafik atau kafir yang melakukan adu domba. Tujuannya, tidak ingin Islam damai, ingin agar Islam hancur.
Kita harus introspeksi, mari kita pikirkan diri kita, mari belajar dari ulama-ulama terdahulu dalam menghormati ulama yang berbeda pendapat, bagai­mana akhlaq mereka menghormati yang berbeda pendapat.

Isnin, Disember 03, 2012

Pengertian bid'ah


pengertian bid'ah
Dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, istilah "bid’ah" ini disandingkan dengan istilah "sunnah". Seperti dikutip Hadratusy Syeikh, menurut Syaikh Zaruq dalam kitab ‘Uddatul Murid, kata bid’ah secara syara’ adalah munculnya perkara baru dalam agama yang kemudian mirip dengan bagian ajaran agama itu, padahal bukan bagian darinya, baik formal maupun hakekatnya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW,” Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolak”. Nabi juga bersabda,”Setiap perkara baru adalah bid’ah”.

Menurut para ulama’, kedua hadits ini tidak berarti bahwa semua perkara yang baru dalam urusan agama tergolong bidah, karena mungkin saja ada perkara baru dalam urusan agama, namun masih sesuai dengan ruh syari’ah atau salah satu cabangnya (furu’).

Bid’ah dalam arti lainnya adalah sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya, sebagaimana firman Allah S.W.T.:

بَدِيْعُ السَّموتِ وَاْلاَرْضِ
“Allah yang menciptakan langit dan bumi”. (Al-Baqarah 2: 117).

Adapun bid’ah dalam hukum Islam ialah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. Timbul suatu pertanyaan, Apakah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. pasti jeleknya? Jawaban yang benar, belum tentu! Ada dua kemungkinan; mungkin jelek dan mungkin baik. Kapan bid’ah itu baik dan kapan bid’ah itu jelek? Menurut Imam Syafi’i, sebagai berikut;

اَلْبِدْعَةُ ِبدْعَتَانِ : مَحْمُوْدَةٌ وَمَذْمُوْمَةٌ, فَمَاوَافَقَ السُّنَّةَ مَحْمُوْدَةٌ وَمَاخَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمَةٌ
“Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela, bid’ah yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji dan bid’ah yang bertentangan dengan sunnah itulah yang tercela”.

Sayyidina Umar Ibnul Khattab, setelah mengadakan shalat Tarawih berjama’ah dengan dua puluh raka’at yang diimami oleh sahabat Ubai bin Ka’ab beliau berkata :

نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هذِهِ
“Sebagus bid’ah itu ialah ini”.

Bolehkah kita mengadakan Bid’ah? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kembali kepada hadits Nabi SAW. yang menjelaskan adanya Bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah.

مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَاوَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِاَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا. القائى, ج: 5ص: 76.
“Barang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”.

Apakah yang dimaksud dengan segala bid’ah itu sesat dan segala kesesatan itu masuk neraka?
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
“Semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu di neraka”.

Mari kita pahami menurut Ilmu Balaghah. Setiap benda pasti mempunyai sifat, tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat, sifat itu bisa bertentangan seperti baik dan buruk, panjang dan pendek, gemuk dan kurus. Mustahil ada benda dalam satu waktu dan satu tempat mempunyai dua sifat yang bertentangan, kalau dikatakan benda itu baik mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan jelek; kalau dikatakan si A berdiri mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan duduk.

Mari kita kembali kepada hadits.
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
“Semua bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka”.

Bid’ah itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan, حدف الصفة على الموصوف “membuang sifat dari benda yang bersifat”. Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka terjadi dua kemungkinan: Kemungkinan pertama :
كُلُّ بِدْعَةٍ حَسَنَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
“Semua bid’ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”.

Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :
كُلُّ بِدْعَةٍ سَيِئَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّاِر

“Semua bid’ah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”.



Jelek dan sesat paralel tidak bertentangan, hal ini terjadi pula dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah membuang sifat kapal dalam firman-Nya :

وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبَا (الكهف: 79)
“Di belakang mereka ada raja yang akan merampas semua kapal dengan paksa”. (Al-Kahfi : 79).

Dalam ayat tersebut Allah SWT tidak menyebutkan kapal baik apakah kapal jelek; karena yang jelek tidak akan diambil oleh raja. Maka lafadh كل سفينةsama dengan كل بد عة tidak disebutkan sifatnya, walaupun pasti punya sifat, ialah kapal yang baik كل سفينة حسنة .

Selain itu, ada pendapat lain tentang bid’ah dari Syaikh Zaruq, seperti dikutip Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Menurutnya, ada tiga norma untuk menentukan, apakah perkara baru dalam urusan agama itu disebut bid’ah atau tidak: Pertama, jika perkara baru itu didukung oleh sebagian besar syari’at dan sumbernya, maka perkara tersebut bukan merupakan bid’ah, akan tetapi jika tidak didukung sama sekali dari segala sudut, maka perkara tersebut batil dan sesat.

Kedua, diukur dengan kaidah-kaidah yang digunakan para imam dan generasi salaf yang telah mempraktikkan ajaran sunnah. Jika perkara baru tersebut bertentangan dengan perbuatan para ulama, maka dikategorikan sebagai bid’ah. Jika para ulama masih berselisih pendapat mengenai mana yang dianggap ajaran ushul (inti) dan mana yang furu’ (cabang), maka harus dikembalikan pada ajaran ushul dan dalil yang mendukungnya.

Ketiga, setiap perbuatan ditakar dengan timbangan hukum. Adapun rincian hukum dalam syara’ ada enam, yakni wajib, sunah, haram, makruh, khilaful aula, dan mubah. Setiap hal yang termasuk dalam salah satu hukum itu, berarti bias diidentifikasi dengan status hukum tersebut. Tetapi, jika tidak demikian, maka hal itu bisa dianggap bid’ah.

Syeikh Zaruq membagi bid’ah dalam tiga macam; pertama, bid’ah Sharihah (yang jelas dan terang). Yaitu bid’ah yang dipastikan tidak memiliki dasar syar’i, seperti wajib, sunnah, makruh atau yang lainnya. Menjalankan bid’ah ini berarti mematikan tradisi dan menghancurkan kebenaran. Jenis bid’ah ini merupakan bid’ah paling jelek. Meski bid’ah ini memiliki seribu sandaran dari hukum-hukum asal ataupun furu’, tetapi tetap tidak ada pengaruhnya. Kedua, bid’ah idlafiyah (relasional), yakni bid’ah yang disandarkan pada suatu praktik tertentu. Seandainya-pun, praktik itu telah terbebas dari unsur bid’ah tersebut, maka tidak boleh memperdebatkan apakah praktik tersebut digolongkan sebagai sunnah atau bukan bid’ah.

Ketiga, bid’ah khilafi (bid’ah yang diperselisihkan), yaitu bid’ah yang memiliki dua sandaran utama yang sama-sama kuat argumentasinya. Maksudnya, dari satu sandaran utama tersebut, bagi yang cenderung mengatakan itu termasuk sunnah, maka bukan bid’ah. Tetapi, bagi yang melihat dengan sandaran utama itu termasuk bid’ah, maka berarti tidak termasuk sunnah, seperti soal dzikir berjama’ah atau soal administrasi.

Hukum bid’ah menurut Ibnu Abd Salam, seperti dinukil Hadratusy Syeikh dalam kitab Risalah Ahlussunnah Waljama’ah, ada lima macam: pertama, bid’ah yang hukumnya wajib, yakni melaksanakan sesuatu yang tidak pernah dipraktekkan Rasulullah SAW, misalnya mempelajari ilmu Nahwu atau mengkaji kata-kata asing (garib) yang bisa membantu pada pemahaman syari’ah.

Kedua, bid’ah yang hukumnya haram, seperti aliran Qadariyah, Jabariyyah dan Mujassimah. Ketiga, bid’ah yang hukumnya sunnah, seperti membangun pemondokan, madrasah (sekolah), dan semua hal baik yang tidak pernah ada pada periode awal. Keempat, bid’ah yang hukumnya makruh, seperti menghiasi masjid secara berlebihan atau menyobek-nyobek mushaf. Kelima, bid’ah yang hukumnya mubah, seperti berjabat tangan seusai shalat Shubuh maupun Ashar, menggunakan tempat makan dan minum yang berukuran lebar, menggunakan ukuran baju yang longgar, dan hal yang serupa.

Dengan penjelasan bid’ah seperti di atas, Hadratusy Syeikh kemudian menyatakan, bahwa memakai tasbih, melafazhkan niat shalat, tahlilan untuk mayyit dengan syarat tidak ada sesuatu yang menghalanginya, ziarah kubur, dan semacamnya, itu semua bukanlah bid’ah yang sesat. Adapun praktek-praktek, seperti pungutan di pasar-pasar malam, main dadu dan lain-lainnya merupakan bid’ah yang tidak baik.